Camino de Santiago: Uji Nyali Jalan Kaki Ratusan KM di Spanyol
Camino de Santiago: Ziarah Jalan Kaki Ratusan Kilometer di Spanyol
friendsofwhiteflint.org – Di era di mana kita bisa terbang dari London ke Madrid hanya dalam dua jam, atau naik kereta cepat menembus pedesaan Eropa dengan nyaman, ide berjalan kaki sejauh ratusan kilometer terdengar seperti sebuah kemunduran, atau mungkin… kegilaan? Bayangkan Anda bangun sebelum matahari terbit, mengikat tali sepatu bot yang masih lembap, memanggul ransel seberat 10 kilogram, dan mulai berjalan kaki. Bukan untuk mengejar bus yang lewat, tapi untuk menempuh jarak setara Jakarta ke Surabaya.
Namun, setiap tahunnya, ratusan ribu orang dari seluruh dunia—mulai dari remaja yang sedang galau mencari jati diri hingga pensiunan yang lututnya sudah berdecit—justru berbondong-bondong ke Spanyol untuk melakukan hal “gila” tersebut. Mereka menempuh Camino de Santiago, sebuah jaringan jalur ziarah kuno yang berujung di katedral Santiago de Compostela di Galicia, barat laut Spanyol.
Apakah ini hanya untuk orang yang religius? Sama sekali tidak. Hari ini, Camino de Santiago telah bertransformasi menjadi fenomena budaya pop, ajang uji fisik, dan terapi mental massal. Ini adalah cerita tentang kaki yang melepuh, anggur murah seharga air mineral, dan persahabatan tanpa sekat bahasa di jalanan Eropa.
Jejak Rasul di Bawah Telapak Kaki Modern
Secara historis, jalur ini bermula dari abad ke-9 ketika makam Rasul Yakobus (Santo Santiago) ditemukan di Galicia. Sejak saat itu, para peziarah dari seluruh Eropa berjalan kaki menuju makam tersebut untuk mencari pengampunan dosa.
Hari ini, motivasinya jauh lebih beragam. Ada yang berjalan karena nazar keagamaan, ada yang ingin menurunkan berat badan, ada yang sedang patah hati, atau sekadar ingin “detoks digital” dari notifikasi WhatsApp yang tak henti berbunyi. UNESCO bahkan telah menetapkan rute ini sebagai Situs Warisan Dunia. Fakta menariknya: meski akarnya adalah tradisi Katolik, statistik menunjukkan bahwa persentase peziarah yang mengaku berjalan untuk alasan “spiritual non-religius” atau sekadar olahraga terus meningkat setiap tahunnya.
Pilih Menu Penyiksaanmu: French Way atau The Northern Way?
Camino de Santiago bukanlah satu jalan tunggal, melainkan jaringan jalan layaknya pembuluh darah yang bermuara di satu jantung: Santiago de Compostela. Memilih rute adalah keputusan krusial pertama Anda.
Yang paling populer dan padat merayap adalah Camino Francés (Rute Prancis). Rute ini dimulai dari St. Jean-Pied-de-Port di Prancis, menyeberangi pegunungan Pyrenees, dan membentang sekitar 780 kilometer ke barat. Infrastrukturnya paling lengkap; kafe, bar, dan penginapan bertebaran setiap 5 kilometer. Namun, bersiaplah untuk berebut tempat tidur di musim panas.
Jika Anda introvert dan lebih suka pemandangan laut yang dramatis, Camino del Norte menyusuri pantai utara Spanyol adalah pilihannya. Pemandangannya spektakuler, tapi kontur jalannya yang naik-turun akan membuat betis Anda “menjerit” minta ampun.
Paspor Pilgrim dan Cap Kebanggaan
Layaknya bepergian ke luar negeri, di sini Anda juga butuh paspor. Namanya Credencial del Peregrino. Ini bukan dokumen imigrasi, melainkan buku saku yang wajib Anda miliki untuk bisa menginap di asrama khusus peziarah (albergue).
Setiap kali Anda mampir di gereja, kantor pos, balai kota, atau bahkan bar lokal sepanjang rute, Anda akan meminta stempel (sello). Di akhir perjalanan, credencial yang penuh dengan cap warna-warni ini menjadi bukti sah bahwa Anda benar-benar berjalan kaki, bukan naik taksi diam-diam. Rasanya ada kepuasan tersendiri melihat lembaran kertas itu perlahan penuh, merekam jejak perjuangan Anda dari kota ke kota.
Realita Albergue: Romantika Tidur Berjamaah
Lupakan privasi hotel bintang lima. Dalam perjalanan Camino de Santiago, rumah Anda adalah albergue. Ini adalah asrama khusus peziarah yang harganya sangat miring, berkisar antara 5 hingga 15 Euro per malam.
Di sinilah ujian kesabaran yang sesungguhnya terjadi. Bayangkan tidur di ruangan berisi 20 tempat tidur tingkat (bunk bed), dikelilingi orang asing yang memiliki aroma tubuh khas setelah berjalan 8 jam. Belum lagi simfoni dengkuran yang bersahut-sahutan di malam hari.
Tips pro: Bawa earplug (penutup telinga) kualitas terbaik. Benda kecil ini lebih berharga daripada emas saat Anda mencoba tidur di sebelah peziarah yang mendengkur sekeras mesin traktor. Namun, di balik ketidaknyamanan itu, albergue adalah tempat lahirnya “keluarga jalanan”. Makan malam bersama (communal dinner) dengan pasta sederhana dan anggur lokal sering kali menjadi momen paling hangat dalam perjalanan ini.
Musuh Terbesar: Bukan Rampok, Tapi Lecet
Anda mungkin khawatir soal keamanan, tapi Spanyol relatif sangat aman. Musuh utama Anda di Camino de Santiago adalah kaki Anda sendiri. Blister atau luka lecet melepuh adalah momok yang paling ditakuti.
Banyak pemula yang gagal atau menderita karena salah memilih sepatu. Jangan pernah membawa sepatu baru yang belum “pecah” (break-in). Selain itu, belajarlah teknik merawat kaki. Orang-orang di Camino punya ritual unik setiap pagi: mengoleskan Vaseline tebal-tebal di jari kaki atau membalutnya dengan plester sebelum mulai berjalan.
Buen Camino!
Salah satu hal paling magis dari ziarah ini adalah interaksi sosialnya. Saat berpapasan dengan sesama pejalan kaki, ada satu frasa wajib yang diucapkan: “Buen Camino!” (Semoga perjalananmu menyenangkan).
Dua kata sederhana ini meruntuhkan tembok sosial. CEO perusahaan besar bisa berjalan beriringan dengan mahasiswa bokek, berbagi air minum dan cerita hidup tanpa peduli status. Di jalanan ini, semua orang sama rata; sama-sama lelah, sama-sama bau matahari, dan sama-sama menuju tujuan yang satu.
Kesimpulan: Sertifikat Compostela
Setelah berminggu-minggu berjalan, momen memasuki Plaza del Obradoiro di depan Katedral Santiago de Compostela adalah puncak emosional yang sulit digambarkan. Ada yang menangis, ada yang bersujud, ada yang sekadar melempar ransel dan berbaring menatap langit.
Jika Anda telah berjalan minimal 100 kilometer terakhir (dan punya bukti cap di paspor pilgrim), Anda berhak mendapatkan Compostela, sertifikat resmi dalam bahasa Latin yang menyatakan peziarahan Anda tuntas. Tapi jujur saja, saat Anda memegang kertas itu, Anda akan sadar bahwa sertifikatnya hanyalah bonus.
Oleh-oleh sesungguhnya dari Camino de Santiago bukanlah selembar kertas atau foto Instagram yang estetik, melainkan kesadaran bahwa hidup itu sebenarnya sederhana: Anda hanya perlu bangun, makan, dan melangkahkan satu kaki di depan kaki lainnya. Siap untuk menguji nyali dan lutut Anda di Spanyol?
